Fatigue Material

Kinerja material sangat berperan aktif dalam setiap perencanaan konstruksi. Elastis, plastis, maupun kritis adalah hal – hal yang harus selalu diperhatikan dalam perencanaan. Setiap material memiliki nilai modulusnya masing – masing, baik modulus elastis maupun modulus plastis. Lalu apakah sebenarnya perbedaan plastis dan elastis? Gambar 1 memberikan penjelasan awal untuk menjawab pertanyaan tersebut.

1

Gambar 1. Mekanisme Keruntuhan

Dari Gambar 1 terlihat bahwa saat sebuah balok diberi beban 50 kg, tegangan plastis yang terjadi hanya pada bagian terluar balok (bagian atas = tegangan desak, bagian bawah = tegangan tarik). Tetapi saat diberi beban yang lebih yaitu 100 kg dan 150 kg, tegangan plastis yang terjadi tidak hanya terdapat pada bagian terluar suatu elemen tetapi juga pada bagian tengah (mendekati garis netral sebuah elemen). Pada saat itulah sebuah elemen berada pada keadaan plastis (mendekati keruntuhan).

6-21-2013 9-11-27 AM

Gambar 2. Diagram Tegangan dan Regangan

Jika suatu elemen berada pada kondisi elastis elastis berarti elemen tersebut memiliki tegangan dan regangan yang masih dapat kembali (mendekati) kondisi semula setelah dikenai beban. Hal ini dapat dianalogikan dengan sebuah karet yang ditarik kemudian dilepas, maka karet yang tadinya meregang (memanjang) akan kembali ke bentuk semula (memendek). Pada Gambar 2, kondisi plastis suatu elemen berada pada garis yang linier (berwarna biru), dimana tegangan masih berbanding lurus dengan regangan yang berarti setiap tegangan yang diberikan kepada elemen tersebut akan direspon dengan baik oleh elemen tersebut dengan adanya regangan yang terjadi pada elemen tersebut. Setiap elemen pasti memiliki batas tegangan dan regangan elastisnya masing–masing. Apabila beban (tegangan) yang diberikan kepada sebuah elemen melebihi batas tegangan elastisnya, maka elemen tersebut berada pada kondisi pasca-elastis. Kondisi tersebut merupakan kondisi peralihan dimana suatu elemen yang tadinya bersifat elastis akan berubaha menjadi plastis.

Keadaan plastis pada Gambar 2 terlihat pada garis berwarna ungu hingga berwarna merah. Pada keadaan plastis kurva sudah tidak berbentuk linear yang berarti hubungan antara tegangan dan regangan sudah tidak lagi seimbang. Hal ini dapat dianalogikan sebagai sebuah bahan yang ditarik kemudian dilepaskan tetapi setelah dilepaskan bahan tersebut tidak memendek seperti semula. Dalam keadaan plastis, walaupun beban yang ditambahkan kepada sebuah material tidak terlalu besar, tetapi regangan yang terjadi terus semakin besar. Hal tersebut akan terjadi hingga titik leleh suatu elemen , dimana walaupun sudah tidak ada beban yang ditambahkan, tetapi regangannya terus bertambah. Setelah melewati titik leleh, barulah elemen tersebut akan runtuh.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Filosofi Desain Struktur Baja

Strong Column Waek Beam adalah filosofi dasar yang harus selalu diimplementasikan setiap kali melakukan perencanaan struktur. Bagaimana cara menerapkannya dalam mendesain struktur baja? Dalam perencanaan struktur baja yang perlu dicermati adalah kekuatan balok, kolom, dan sambungan. Dalam perencanaan struktur baja sambungan merupakan hal yang harus benar – benar dicermati karena pada sambungan tersebutlah biasanya sendi plastis akan mudah terjadi. Berbeda dengan struktur beton yang dengan pengecoran maka tulangan – tulangan sambungan antara kolom dan balok bisa seakan – akan menjadi monolit, karena pada sambungan baja kekuatan baut dan las yang digunakan harus dihitung dengan baik.

Untuk bacaan lebih lengkap, silahkan download paper di bawah ini.

Filosofi Desain Struktur Baja

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Manajemen Transportasi Pelabuhan

Manajemen transportasi pada sebuah pelabuhan terdiri dari beberapa sistem manajemen atau kegiatan yang saling berhubungan, yaitu mulai dari manajemen penambatan kapal hingga manajemen barang – barang di pelabuhan. Manajemen sistem parkir di pelabuhan yang meliputi jasa pemanduan perlu diatur dengan baik karena hal tersebut berpengaruh pada kelancaran proses penambatan sebuah kapal. Hal tersebut kemudian akan mempengaruhi waiting time atau waktu yang dibutuhkan kapal untuk menunggu agar kapal tersebut dapat melakukan proses penambatan. Setelah kapal selesai melakukan proses penambatan, maka sistem manajemen yang selajnutnya bekerja adalah sistem manajemen barang – barang, dimana seluruh proses pengaturan barang mulai dari proses bongkar hingga proses pemuatan kembali. Setelah dilakukan proses bongkar muatan, barang – barang kemudian disortir berdasarkan barang yang akan langsung diangkut keluar pelabuhan melalui sarana transportasi lain dengan barang yang akan disimpan di pelabuhan.

Makalah mengenai sistem transportasi pelabuhan yang lengkap, dapat di download di sini 13353_Henrikus Galih Irawan_Pelabuhan_2012

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Penentuan Beban Gempa Berdasarkan Analisis Statik Ekivalen (ASCE/SEI 7-2010)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Tebal pelat lantai         150 mm
  • Balok induk                300 X 500 mm
  • Balok anak                  200 X 400 mm
  • Kolom Tingkat 1-4      550 X 550 mm
  • Kolom Tingkat 5-7      450 X 450 mm
  • Gedung tersebut akan digunakan sebagai kantor
    • Jenis tanah      = Tanah Sedang
    • Ss (Spektra percepatan untuk periode pendek 0.2 detik di batuan dasar)     = 1.3 g
    • S1 (Spektra percepatan untuk periode 1 detik di batuan dasar)                     = 0.5 g
  1. Berat satuan

2.   Berat Seismik

W. total= 19517.835 KN

3.   Koefisien Periode Pendek (Fa) dan Koefisien Periode 1 detik (Fv)

Fa = 1

Fv = 1.5

4.    Percepatan Gempa Maksimum Pada Periode Pendek ( SMS) dan Percepatan Gempa Maksimum Pada Periode 1 detik ( SM1)

SMS = Fa x Ss

= 1 x 1.3

= 1.3 g

SM1  = Fv x S1

= 1 x 1.3

= 1.3 g

5.     Spektra Percepatan Gempa Rencana Pada Periode Pendek dan Spektra Percepatan Gempa Rencana Pada Periode 1 detik

Sds = 2/3 x SMS

= 2/3 x 1.3

= 0.8677 g

Sd1 = 2/3 x SM1

= 2/3 x 0.75

= 0.5 g

6.   Kategori Resiko = II

7.    Kategori Desain Seismik = D

8.     Sistem Penahan Beban Lateral = Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK)

R   = 8

Cd = 5.5

Ω= 3

9.     Faktor Keutamaan Gempa (IE) = 1

10.   Waktu Getar Fundamental

Ta = Ct hX                      , h = Tinggi gedung (m)

= 0.0046 x 26.90.9

= 0.9019 detik

11.     Faktor Respon Gempa

Cs = (Sds/(R/Ie))       ≥            Cs = (Sds/ T(R/Ie))

= (0.867/(8/1))

= 0.1083

12.     Berat Efektif Bangunan

V = Cs x W.total bangunan

=  0.1083 x 19517.835 KN

=  1791.2793 KN

13.      Distribusi Beban Lateral Pada Setiap Lantai

k = 0.5T + 0.75

= 0.5 (0.9019) + 0.75

= 1.20095

Fi = ((Wi Zik)/(ΣWi Zik)) x V

Leave a comment

Filed under Uncategorized

PENGARUH ADANYA PELABUHAN TERHADAP KEMAJUAN EKONOMI SUATU NEGARA

Pelabuhan merupakan salah satu prasarana transportasi yang cukup penting bagi sebuah negara, terutama pada negara maritim seperti Indonesia sebab pelabuhan dapat membantu meningkatkan ekonomi negara. Dengan adanya pelabuhan maka kegiatan ekonomi suatu negara akan dapat menjadi lebih lancar, karena berdasarkan pada fakta yang ada pada beberapa negara, barang – barang ekspor impor sebagian besar dikirim melalui jalur laut (menggunakan kapal) yang berarti membutuhkan pelabuhan atau tempat untuk bertambat, meskipun rute perjalanan yang dituju dapat dilalui oleh alat transportasi lain. Hal tersebut dapat terjadi mengingat jumlah barang yang dapat diangkut oleh kapal lebih banyak dibandingkan dengan jumlah barang yang dapat diangkut oleh armada lain seperti pesawat (seperti contohnya kapal P. Guillaumat yang dapat mencapai 555.000 DWT (Bambang Triatmodjo, 1986)).

Dalam pengembangan bidang ekonomi, pelabuhan memiliki beberapa fungsi yang sama – sama dapat meningkatkan ekonomi suatu negara. Pelabuhan bukan hanya digunakan sebagai tempat merapat bagi sebuah kapal melainkan juga dapat berfungsi untuk tempat penyimpanan stok barang, seperti contohnya sebagai tempat penyimpanan cadangan minyak dan peti kemas (container), karena biasanya selain sebagai prasarana transportasi manusia pelabuhan juga kerap menjadi prasarana transportasi untuk barang – barang. Menurut R. Bintarto (1968),dalam segi kepentingan suatu daerah pelabuhan memiliki arti ekonomis yaitu karena pelabuhan mempunyai fungsi sebagai tempat ekspor impor dan kegiatan ekonomi lainnya yang saling berhubungan sebab akibat. Dengan adanya kegiatan di pelabuhan, maka keuntungan secara ekonomi yang langsung dapat dirasakan adalah terbukanya banyak lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, karena dalam segala bidang kegiatan di pelabuhan tenaga kerja manusia akan sangat dibutuhkan seperti contohnya tenaga kerja sebagai kuli (untuk mengangkat barang – barang), pengatur lalu lintas pelabuhan (terutama pengatur lalu lintas kendaraan yang akan masuk ke kapal), dan petugas kebersihan pelabuhan.

Selain itu pada PP no. 10 tahun 2012 dibahas peraturan – peraturan tentang perpajakan dan cukai, yang tentu saja dapat meningkatkan ekonomi Indonesia karena dengan semakin banyaknya kegiatan ekspor impor yang melalui pelabuhan maka pajak yang akan diterima oleh Indonesia juga akan semakin besar dan hal ini akan dapat menambah pendapatan negara. Dengan penambahan pendapatan negara, maka negara ini dapat memenuhi semua kebutuhan – kebutuhannya tanpa harus meminjam dari negara lain. Selain itu dengan semakin banyaknya pajak yang diterima oleh negara, pemerintah juga diharapkan dapat mengalokasikan pendapatan negara tersebut dengan baik, seperti contohnya menambah subsidi bahan pangan kepada masyarakat yang kurang mampu, pembangunan daerah yang tertinggal, dan subsidi pendidikan.

Tinjauan mengenai pengaruh pelabuhan terhadap perkembangan ekonomi suatu negara dijelaskan juga oleh Abdul Haris (2011) infrastruktur berpengaruh penting bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia, antara lain peningkatan nilai konsumsi, peningkatan produktivitas tenaga kerja, serta peningkatan kemakmuran masyarakat sekitar. Dengan adanya pelabuhan maka barang – barang dagang banyak masuk ke sebuah negara, hal ini juga bertujuan untuk memenuhi keinginan masyarakat untuk mengkonsumsi barang tersebut. Mengingat sekarang ini merupakan jaman pasar global, maka tingkat keinginan untuk mengkonsumsi barang – barang yang sedang menjadi trend-center pun meningkat, walaupun barang tersebut bukan berasal dari negaranya. Yang sering kali terjadi juga adalah setelah barang impor datang dan sudah diperjual belikan di suatu negara, masyarakat negara itu baru sadar bahwa barang yang sedang di perjual belikan tersebut adalah barang yang sedang menjadi trend-center, oleh karena itu tidak heran jika tiba – tiba permintaan masyarakat suatu negara terhadap suatu barang tiba – tiba sangat tinggi, dan hal itu secara tidak langsung meningkatkan nilai konsumsi masyarakat suatu negara.

Selain sebagai prasarana transportasi pelabuhan juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat pariwisata karena juga dapat membawa keuntungan baik bagi negara maupun masyarakat sekitar (Indriyanto, 2005). Didalam sejarah Indonesia selalu disebutkan bahwa para penjajah masuk ke Indonesia melalui pelabuhan. Di pelabuhan tersebut juga terjadi banyak kegiatan seperti kegiatan ekonomi dan politik (perang). Apabila kita dapat lebih melihat pelabuhan dari sisi historisnya juga, maka pelabuhan – pelabuhan jaman sekarang bisa di tambah lagi fungsinya sebagai tempat wisata yang mengangkat nilai – nilai historis. Apabila dikembangkan dengan baik maka dari sisi ini pelabuhan juga dapat menambah kemakmuran bagi masyarakat sekitar dan juga untuk negara.

Contoh salah satu negara yang dapat lebih berkembang dengan adanya pelabuhan adalah Indonesia. Menurut Soedjono Kramadibrata (1985), Pelabuhan Tanjung Priok tidak dapat beraktivitas dengan baik akibat fasilitas yang tersedia pada pelabuhan tersebut tidak sebanding dengan padatnya lalu lintas kapal yang bongkar muat di pelabuhan itu. Pada waktu itu pelabuhan Tanjung Priok adalah pelabuhan impor utama di Indonesia, dan apabila masalah fasilitas di pelabuhan tersebut tidak dapat segera diselesaikan dengan baik maka negara ini tentu akan mengalami banyak kerugian secara ekonomi. Oleh karena itu pembangunan fasilitas pelabuhan dimulai selama 5 tahun (1970-1985), dan  pada data yang ada pada saat masih baru dalam proses pembangunan yaitu pada 1970-1980, perkembangan kegiatan ekonomi (bongkar muat barang – barang impor) naik sebesar 8,77% per tahun.

Lebih lanjut lagi dijelaskan mengenai perkembangan ekonomi Indonesia pada saat ini yang dipengaruhi oleh prasarana transportasinya yaitu pelabuhan. Berikut ini adalah data – data perkembangan ekspor-impor Indonesia :

Tabel 1. Ringkasan Perkembangan Ekspor Indonesia

Sumber : BPS 2011

Tabel 2. Ringkasan Perkembangan Impor Indonesia

Sumber : BPS 2011

Dari kedua tabel diatas dapat dilihat bahwa ekspor impor Indonesia meningkat, dan barang – barang yang dieskpor dan diimpor tersebut merupakan barang – barang yang biasa diangkut dengan kapal karena biasanya pengiriman barang – barang tersebut dilakukan dengan jumlah yang besar. Dengan data tersebut dapat diperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sisi ekspor impor barang akan berkembang bila prasarana pelabuhan juga dikembangkan.

Gambar 1. Pola Pergerakan Kontainer Ekspor-Impor Indonesia 2007

Sumber : Kementerian Perhubungan, 2007

Dari gambar diatas dapat terlihat bahwa banyak negara  dari seluruh benua masih membutuhkan ekspor barang dari Indonesia, dan juga sebaliknya Indonesia juga membutuhkan barang – barang impor dari negara – negara lain. Menurut data BPS pada tahun 2010 volume impor di Indonesia adalah 110.701,01 ribu ton, sedangkan volume ekspor di Indonesia adalah 476.209,41 ribu ton. Oleh karena itu, pelabuhan – pelabuhan di Indonesia harus dikelola dengan baik karena fungsinya yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia.

Gambar 2. Pola Spasial Pemenuhan Permintaan Antara Lokal, Antar Propinsi dan Impor

Dari gambar tesebut terlihat bahwa angkutan penyeberangan (kapal) beserta prasarananya yaitu pelabuhan, sangat dibutuhkan oleh Indonesia untuk memajukkan perekonomiannya. Sebagai negara kepulauan peranan pelabuhan dalam pergerakan aliran barang di dalam negeri memegang peranan penting tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, tetapi juga sebagai wahana untuk mengantarkan hasil produksi pertanian, pertambangan dan industri agar dapat digunakan dan dipasarkan, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Dan dibawah ini adalah grafik perkembangan penggunaan jasa transportasi air di Indonesia.

Grafik 1. Produksi Penumpang, Barang dan KendaraanYang diangkut oleh Angkutan Penyeberangan

*Direktorat LLASDP, Ditjen Hubdar, Desember 2009

Lalu lintas kontainer melalui pelabuhan yang dikelola oleh PT. Pelabuhan Indonesia I-IV pada tahun 2007 mencapat 7,6 (tujuh koma enam) juta TEUs. Jumlah ini meliputi kegiatan kargo internasional dan kargo dalam negeri. Tabel 2.11 berikut menunjukkan tren pertumbuhan se Indonesia hampir 6% (enam persen) dari volume kontainer yang ditangani oleh PT. Pelabuhan Indonesia dari tahun 2003–2007. Volume ini akan meningkat karena menurut studi ASEAN tahun 1999 dalam kurun waktu 15 tahun mendatang, diperkirakan kenaikan lalu lintas angkutan barang melalui kontainer sebesar 3 (tiga) kali lipat, non kontainer 2 (dua) kali lipat, angkutan udara 5 (lima) kali lipat, dan volume perdagangan antar negara ASEAN sebesar 20–30% (dua puluh sampai tiga puluh) dalam kurun waktu 15 tahun mendatang.

Oleh karena itu, berdasarkan data – data yang telah di jelasakan pelabuhan sangat bermanfaat bagi pekembangan ekonomi suatu negara. Dampak langsungnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar yaitu dengan terbukanya lapangan pekerjaan bagi mereka sehingga kehidupan mereka bisa menjadi lebih sejahtera, sedangkan dampak ekonomi yang dirasakan oleh negara yaitu angka pengangguran menjadi berkurang sehingga produktivitas masyarakatnya menjadi bertambah (subsidi/pengeluaran negara untuk orang yang kurang mampu menjadi berkurang) dan pendapatan negara bertambah (pajak, cukai, dan pariwisata).

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Haris, Kasubdit Pertanahan – Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Bappenas, 2011

Badan Pusat Statistik, 2011

Direktorat LLASDP, Ditjen Hubdar, Desember 2009

Indriyanto, Peran Pelabuhan Dalam Menciptakan Peluang Usaha Pariwisata, (Makalah Pengabdian Masyarakat, UNDIP 2005)

Kementerian Perhubungan, 2007

Kramadibrata, Soedjono, Perencanaan Pelabuhan,1985, Ganeca Exact : Bandung

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2012 Tentang Perlakuan Kepabean, Perpajakan, dan Cukai Serta Tata Laksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang  ke dan dari serta  Di Kawasan Yang Telah Ditetapkan Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas

R. Bintarto, Beberapa Aspek Geografi , (Yogyakarta: Penerbit Karya, 1968), hlm. 33.

Triatmodjo, Bambang, Pelabuhan, 2008, Beta Ofset : Yogyakarta

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Beton (Concrete)

Beton telah dikenal di dunia Teknik Sipil sebagai salah satu bahan konstruksi yang memiliki banyak keuntungan. Beton dapat dihasilkan melalui pencampuran agregat kasar dan agregat halus dengan sedikit menambahkan perekat (pasta semen).

Kelebihan Beton : Harganya relatif murah (pasir, kerikil, semen, air),Berkekuatan tekan tinggi, Tahan aus, Tahan kebakaran, Tahan cuaca,Tidak berkarat, Hampir tidak memerlukan perawatan khusus selama pemakaian

Kelemahan Beton : Kuat tarik beton sangat kecil bila dibandingkan kuat tekannya, Getas, Sulit diperoleh beton yang kedap air

Untuk dapat memperoleh kekuatan tekan beton yang tinggi ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, yaitu :

  • Jenis dan kualitas semen
  • Jenis dan bentuk permukaan agregat
  • Kondisi perawatan beton
  • Suhu lingkungan sekitar beton
  • Umur beton

Beton yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh bahan – bahan campuran yang digunakan. Bahan yang digunakan seperti air, pasir, kerikil, semen memiliki syarat – syarat tertentu agar ikatan yang dihasilkan oleh bahan – bahan tersebut bisa baik sehingga dapat menghasilkan beton dengan kualitas yang baik.

  1. Air

Air merupakan salah satu bahan campuran dalam pembuatan beton. Air dibutuhkan untuk membantu kelangsungan reaksi semen (tanpa air, semen tidak akan dapat bereaksi/mengeras), serta menjadi pelumas antara butir – butir agregat agar adukan beton mudah dikerjakan.

Syarat – syarat air yang digunakan dalam campuran pembuatan beton:

  • Tidak boleh mengandung lumpur (dapat memperlambat ikatan awal beton), minyak, asam, alkali (dapat menyebabkan berkurangnya lekatan antara agregat dengan pasta semen), garam (dapat menimbulkan korosi pada tulangan) , bahan organik
  • Secara umum sebaiknya air yang digunakan adalah air yang dapat diminum, tawar, tidak berbau, dan tidak keruh bila diembus udara

2.  Semen

Semen Portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker yang terdiri dari silikat – silikat kalsium yang bersifat hidrolis dengan gips sebagai bahan tambahan untuk mengatur ikatan awal semen. Kehalusan semen mempengaruhi kemudahan pengerjaan adukan beton dan dapat mengurangibleeding (naiknya sejumlah air ke permukaan beton).

Proses hidrasi semen berlangsung bila semen bereaksi dengan air. Di awal hidrasi dihasilkan Ca(OH)2etteringite, dan C3S2H3 yang membentuk coating pada partikel semen. Hal ini mengakibatkan reaksi hidrasi tertahan selama 1 – 3 jam (pasta semen masih plastis dan workable). Periode ini berakhir dengan pecahnyacoating dan reaksi hidrasi kembali terjadi dan initial setting segera terjadi yaitu waktu mulai adonan terjadi sampai mulai terjadi kekakuan tertentu dimana adonan mulai tidak workable. Dan final setting tercapai pada saat adonan mencapai kekakuan penuh. Waktu pengikatan (setting time) dari semen dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu :

  • Kandungan C3A, semakin besar akan menyebabkan setting time yang pendek
  • Kandungan gips,  semakin besar akan menyebabkan setting time yang panjang
  • Semen yang semakin halus meyebabkan setting time yang semakin pendek

Ada beberapa jenis semen Portland, yaitu :

  • Jenis I (Normal Portland Cement)

Untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus. Semen jenis ini tidak baik digunakan pada bangunan massa karena dapat menimbulkan selisih temperatur yang besar antara bagian dalam dan luar bangunan sehingga dapat menimbulkan retak – retak pengerasan.

  • Jenis II (Modified Portland Cement)

Dalam penggunaannya diperlukan ketahanan terhadap sulfat. Baik digunakan untuk bangunan seperti pir, pilar, dinding penahan tanah yang tebal, bendungan, dan dermaga)

  • Jenis III (High Early Strenght Prtland Cement)

Dalam penggunaannya dituntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi. Baik digunakan untuk pembuatan – pembuatan beton yang harus segera digunakan atau harus segera dilepas bekesting-nya. (Contoh : jalan raya dan lapangan terbang)

  • Jenis IV (Low Heat Portland Cement)

Dibutuhkan panas hidrasi yang rendah dalam penggunaanya. Baik digunakan untuk pembuatan bangunan massa seperti bendungan.

  • Jenis V (Sulfate Resisting Portland Cement)

Dalam penggunaannya menuntut persyaratan sangat tahan terhadap sulfat. Penggunaan semen jenis ini untuk bangunan – bangunan yang terletak pada sulfat pekat (contoh : bendung dan pemecah gelombang)

3.  Agregat

Tujuan pemakaian agregat dalam campuran beton yaitu untuk menghemat penggunaan semen Portland (sehingga harga bahan campuran beton menjadi lebih murah), menghasilkan kekuatan yang besar pada betonnya dan mengurangi terjadinya susut pengerasan.

Gradasi agregat merupakan salah satu faktor yang sangat diperhatikan, karena bila butir – butir agregat berukuran seragam akan dihasilkan volume pori yang besar, sebaliknya ukuran butir – butir agregat bervariasi maka volume pori akan kecil. Hal ini dikarenakan butiran kecil akan mengisi pori diantara butiran besar. Campuran beton dengan volume pori sedikit sangat diharapkan karena dengan demikian maka penggunaan bahan ikat menjadi sedikit.

a)      Agregat halus (pasir)

Pasir alam dapat diperoleh dari dalam tanah/pasir galian (Berbutir tajam, keras, dan bebas dari kandungan garam), pada dasar sungai/pasir sungai (Berbutir halus dan bulat), dan tepi laut/pasir laut (Berbutir halus, bulat, dan mengandung garam, sehingga kurang baik untuk digunakan sebagai bahan campur beton karena dapat menyebabkan korosi pada tulangan). Pasir yang baik digunakan sebagai bahan campur dalam pembuatan beton adalah berbutir tajam dan keras (pasir galian), tidak mudah pecah, dan tidak mengandung lumpur.

b)      Agregat kasar (kerikil)

Syarat – syarat yang harus dipenuhi oleh agregat kasar atau kerikil dalam campuran beton yaitu berbutir keras (tidak mudah hancur) dan tidak berpori agar dapat menghasilkan beton yang keras dan sifat tembus airnya kecil, tidak mengandung lempung lebih dari 1%, tidak mengandung zat reaktif alkali (dapat menyebabkan pengembangan beton).

Ukuran maksimum butir agregat :

  • Tidak boleh melebihi 3/4 kali jarak bersih antar tulangan baja atau antara tulangan baja dengan cetakan (bekisting)
  • Tidak boleh lebih besar dari 1/3 kali tebal plat
  • Tidak boleh lebih besar dari 1/5 kali jarak terkecil antara bidang samping cetakan

Beton yang dibuat sebaiknya memiliki sifat mudah dikerjakan (mudah diaduk, disalurkan, dituang, dan dipampatkan). Sifat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jumlah air dalam campuran beton yang semakin banyak disertai dengan penambahan semen maka beton akan makin mudah dikerjakan, gradasi butir kerikil yang baik, pemakaian kerikil yang berbentuk bulat, dan sifat lekat antara bahan – bahan penyusun beton tersebut. Lalu apabila setelah beton dicor pada elemen struktur suatu bangunan tetapi setelah diuji kuat desaknya di lab ternyata beton tersebut tidak memenuhi syarat yang ada pada RKS, maka hal yang dapat kita lakukan yaitu :

  1. Menganalisis ulang struktur bangunan tersebut dengan mutu beton yang sebenarnya (yang ada di lapangan)
  2. Kemudian di uji hammer test pada beton yang telah di cor tersebut
  3. Lalu apabila masih tidak memenuhi syarat dapat dilakukan uji pembeban secara langsung pada elemen struktur yang telah di cor tersebut
  4. Apabila masih tidak memenuhi syarat dapat dilakukan perkuatan pada elemen struktur tersebut

(Sumber : Bahan Kuliah Teknologi Bahan Konstruksi, Teknik Sipil, Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

1 Comment

Filed under Uncategorized